Minggu, 13 November 2016

K13 dan Kendala Sekolah Pinggiran

Oleh
I Made Rierlin
SMAN 1 Nusa Penida Bali


Mengajar di kawasan "pinggiran" banyak dihadang kendala sarana dan prasarana. K13 yang menuntuk penggunaan perangkat TIK menjadi beban tersendiri bagi guru di sekolah yang masih belum memiliki kelengkapan sarana belajar. Satu permasalah mendasar adalah aliran listrik. Di Nusa Penida, pulau bagian selatan kawasan Bali, untuk menikmati aliran listrik baru bisa menggunakan tenaga mesin diesel. Permasalahan pembelajaran berbasis TIK yang harus disokong keberadaan aliran listrik, adalah permasalahan mendasar di lingkungan sekolah-sekolah di Nusa Penida. Hal lain yang menjadi kendala adalah belum siapnya sarana kegiatan pembelajaran yang diperlukan, seperti LCD Projector, misalnya.

Ketika guru ingin membangun kondisi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, hal lain yang muncul sebagai kendala adalah sulitnya mendapatkan alat dan bahan pembelajaran. Alat dan bahan pembelajaran seni rupa, seperti cat air, cat minyak, kanvas, dan sejumlah bahan yang harus dibeli di toko-toko pusat kota, menjadi kendala utama bagi guru dan siswa. Jarak Nusa Penida dengan Denpasar, lumayan memerlukan waktu dan tenaga khusus.

Solusi yang paling mudah dilakukan dan dianggap cukup efektif adalah menyediakan bahan informasi pembelajaran, misalnya berupa gambar bahan belajar yang biasanya ditayangkan menggunakan LCD Projector, diganti dengan printout gambar yang bisa dipajang di papan tulis ketika pembelajaran berlangsung. Begitupun ketika kegiatan pembelajaran praktik berkarya harus dilaksanakan. Kendala alat dan bahan bisa diatasi dengan mengekplorasi lingkungan, memanfaatkan local genius milik masyarakat, dan mengolah bahan alam untuk mengganti bahan-bahan sintetis yang harus dibeli di kota.





(Diedit oleh admin tanpa mengubah inti tulisan)   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar